Pages

Friday, September 4, 2015

Quote of the day: kemuliaan sejati adalah di mata Allah

Manusia adalah makhluk mulia yang diciptakan Allah paling sempurna dibanding makhluk lain. Kata Bapak, nilai kemuliaan seseorang itu bukan dari pandangan manusia. Bukan dilihat dari banyaknya teman yang dimiliki, karena teman belum tentu membawa kebaikan. Apalagi kondisi sekarang, makin banyak teman yang bermuka dua dan tidak tulus.
Bukan pula dilihat dari umurnya. Orang yang tua karena umurnya bukan berarti dia pantas dihormati, karena banyak dari mereka yang sikapnya justru merendahkan diri mereka sendiri.
Harta juga bukan indikator kemuliaan manusia. Banyak yang menggunakan harta mereka untuk menikmati kenikmatan sesaat dunia, bukan untuk menciptakan jalan ke surga.
Cantiknya paras dan sempurnanya bentuk tubuh bukan pula menjadikan seorang manusia menjadi mulia. Bisa jadi mereka dipuja-puja karena sempurnanya fisik, tapi apa gunanya kalau akhlaknya cacat.
Ingat cerita pahlawan dulu yang rela mengorbankan harta, keluarga, dan nyawanya untuk memperjuangkan kemerdekaan. Bukan seperti tingkah pejabat-pejabat sekarang yang sibuk memperkaya diri.
Buat aku, tak harus populer, tua, kaya, cantik untuk menjadi makhluk mulia.
Siap-siap dicap orang aneh dan dimusuhi orang karena berbuat baik sebab kenyamanan orang lain yang berbuat tidak baik menjadi terganggu.
Tanyakan pada diriku sendiri, kebaikan dan kebenaran apa yang sudah aku lakukan dan tegakkan untuk menjadikan aku mulia di mata Allah. 
Nilai kemuliaan manusia itu ketika dia bisa berbuat banyak kebaikan dan bermanfaat untuk orang lain. Mungkin ada nilai kebaikan lain yang bisa menuntun pada kemuliaan dan ridho Allah, tapi setidaknya mulailah dari yang kita bisa.

Tuesday, May 26, 2015

Siapa aku?

Entahlah mengapa aku ingin menutup rapat-rapat masa laluku. Masa-masa aku sekolah dan kuliah khususnya. Apakah aku mengalami pengalaman pahit ketika itu? Tidak menurutku. Justru aku adalah seseorang yang dikenal, punya banyak teman, aktif dalam organisasi dan selalu berprestasi dalam akademik. Dua tahun terakhir, aku dengan happy melewatkan 2 x lebaran di negeri orang. Dan ketika aku pulang untuk menemui Bapak Ibuku, aku lebih memilih untuk berada di dalam rumah seharian. Hanya keluar rumah jika memang benar-benar ada perlu. Urus SIM, dan KTP misalnya. Ketemu teman, lebih baik pura-pura tidak kenal. Diundang nikahan, memilih untuk tidak hadir. Diundang reunian, tentu saja tidak datang.

Lalu, siapa aku sekarang sehingga aku menjadi introvert? Aku adalah orang biasa, memilih untuk menjadi biasa. Staf di instansi pemerintah non-kementrian. Apakah itu yang membuatku mengurung diri? Status sebagai staf tidak membuatku berkecil hati. Ada banyak pengalaman yang sudah aku peroleh selama aku menjadi staf disini. Alhamdulillah sudah keliling Indonesia, sudah lulus S2 dari Thailand, pertukaran pelajar di Jepang, dan blah blah blah. Yang membuatku tidak nyaman bertemu dengan kawan lama adalah paranoid dengan pertanyaan klise: anakmu berapa, sudah sebesar apa mereka? Dan pencapaian-pencapaian materi lain yang secara tidak langsung ingin ditunjukkan oleh mereka dengan menunjukkan dimana rumahnya, kendaraan apa yang sedang dibawa saat itu, dan gaya dandan mereka. Tidak hanya itu. Motif mereka ingin bercakap-cakap lama dengan kawan lama biasanya ingin mempromosikan bisnis yang sedang mereka jalankan.

Saat ini, yang paling membuatku nyaman adalah berada di tempat baru dengan orang-orang yang tidak aku kenal. Mereka tidak perlu menanyakan padaku apa kabarku dan basa-basi lain. Dan yang paling menakutkan aku adalah lebaran! Momen dimana aku bertemu orang-orang yang sudah aku kenal dan mau tidak mau berhadapan dengan pertanyaan klise.

Wednesday, January 14, 2015

Brownies tanpa mixer

Setelah sekian lama ga masak-masak pake happycall, jadi kumat isengnya.. Dulu kadang iseng bikin pizza topping cabe ijo-karena paprika mahal, kastengel, sama ikan bakar (waktu itu belum punya blog). Pengen bikin kue, cake atau kue kering pake happycall tanpa mixer. Tadinya sih pengen bikin cake pisang, tapi kata temen kalo pisangnya terlalu mateng malah bisa benyek kuenya. Googling dengan keyword "kue tanpa mixer happycall" eh ketemulah https://coretanyanti.wordpress.com/2013/10/10/bikin-brownies-tanpa-mixer-dan-oven/
Sebenernya aku sih biasa aja sama brownies (ga terlalu cinta maksudnya), tapi karena di resep Mb Yantist ini ga pake mixer dan bahan-bahannya relatif mudah, jadi pengen nyobain. Bela-belain pulang kerja mampir ke TipTop Rawamangun meskipun cuacanya lagi mendung-mendung galau. Udah gitu nyari soda kue kata SPG-nya ga ada... Yaaaahhh.. lemes deh. Tapi karena udah bertekad pokonya ini hari aku harus bikin brownies, jadi aku cari sendiri. Alhamdulillah ketemu pengembang kue merk koepoe. Aku sendiri ga tau itu sama apa ga ya dengan soda kue.. Hihihi.. Yang penting bisa buat ngembangin adonan deh.. Hehehe..
Karena khawatir gagal dan mubazir (karena ini pengalaman pertama kali nyobain bikin brownies pake happycall) akhirnya aku bikin setengah adonan aja..

Ini nih bahan-bahannya:
- 250 gr terigu
- 50 gr coklat bubuk 
- 200 gr gula halus
- 200 cc minyak goreng (segelas blimbing)
- 200 ml air kopi
- 2 butir telur kocok lepas
- 1 sdt garam
- 1 sdt soda kue
- mocha flavour (ini aku tambahin sendiri biar lebih mantep)

Berhubung aku ga punya timbangan, jadi aku pake gelas ukur (yang ada tulisannya buat liquid, sugar, flour gitu). Pertama, semua bahan kering diayak. Campur telur dengan minyak. Tuangkan ke dalam adonan kering dan tambahkan air kopi+perasa moka. Aduk aja terus tuang deh ke happycall yang udah dipanasin. Setelah 10 menit brownies udah matang. Karena  aku bikin cuma setengah adonan, jadinya pas dituang ke happycal jadinya berbentuk lingkaran dengan diameter +/- 20 cm. Hihihi..

Ini nih penampakannya setelah aku potong pinggirannya.
Kata tetanggaku, ini bukan brownies, tapi kue coklat.. Saran kakakku sih coklat bubuknya diganti coklat blok yang dilelehkan.. Hmmm.. bisa dicoba lain kali.. Kalau menurutku ya enak aja.. Hahaha..